Kasus Pasien Kanker Payudara

Pasien 1:

Amisha (34 tahun) adalah seorang pasien kanker payudara asal Indonesia. Ia didiagnosis menderita kanker payudara stadium 1, tingkat 3, dengan tumor HER2 positif. Amisha memiliki riwayat kanker dalam keluarga, dan ia masih memiliki keinginan untuk mempunyai anak.

ef7634e3-d670-461d-953a-b8a1ab44f7ca.png.png

Amisha (34 tahun), Pasien Kanker Payudara HER2-Positif

Dokter penanggung jawab, Dr. Han Liangfu, bersama tim medisnya, merekomendasikan rencana pengobatan berupa kemoterapi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan mastektomi ganda (pengangkatan kedua payudara). Kondisi pascaoperasinya jauh lebih baik dari yang diharapkan—jahitan sangat rapi dan rata, serta proses penyembuhan berjalan cepat. Dengan dukungan, dorongan, dan keyakinan yang terus diberikan oleh tim medis, Amisha akhirnya mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, dan hasil pemulihannya hampir sempurna.

[Baca Kisah Selengkapny]

Pasien 2:

Siti (38 tahun) menemukan adanya benjolan pada payudara kirinya. Karena benjolan tersebut tidak menimbulkan rasa sakit, awalnya ia tidak terlalu menghiraukannya. Dua bulan kemudian, ia menyadari benjolan tersebut membesar. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit, Siti didiagnosis menderita kanker payudara. Karena masih muda, Siti berharap dapat mengangkat tumor payudara sambil mempertahankan bentuk payudara. Namun, pihak keluarga menginginkan agar seluruh payudara diangkat demi mencegah risiko kanker muncul kembali, karena khawatir sisa jaringan payudara akan terkena kanker di kemudian hari.

f3f3f95c-996e-4452-9bab-3288f82a5b2b.png.png

Siti (38 tahun), Operasi Minimal Invasif +Rekonstruksi Payudara

Setelah memahami kondisi Siti secara menyeluruh, tim medis yang dipimpin Dr. Zeng Zhiqiang memberikan rencana operasi untuk meminimalkan terbentuknya jaringan parut pada payudara menggunakan teknologi robot bedah Da Vinci dan laparoskopi. Dalam operasi tersebut, tim juga memasang implant payudara untuk rekonstruksi, sehingga hasilnya membuat Siti dan keluarganya sangat puas. Dokter anestesi memberikan anestesi secara presisi, sehingga Siti tidak merasakan ketidaknyamanan sama sekali selama operasi. Saat ini, Siti sedang menjalani terapi tamoksifen selama 5 tahun untuk menurunkan risiko kekambuhan.

[Baca Kisah Selengkapny]

Pasien 3:

Maya (60 tahun) didiagnosis menderita kanker payudara invasif stadium IIA. Setelah menjalani operasi konservasi payudara di Indonesia, ia mengalami limfedema yang mengganggu kehidupannya—bahkan aktivitas sederhana seperti menyisir rambut pun terasa sangat sulit. Maya berpindah-pindah mencari perawatan ke tiga rumah sakit, hingga akhirnya memilih Pusat Tumor Payudara Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan atas rekomendasi temannya untuk melanjutkan pengobatan. Tim yang dipimpin oleh Dr. Han Liangfu merancang rencana pengobatan menyeluruh berupa TC x 4 siklus kemoterapi + 19 sesi radioterapi + 5–10 tahun terapi endokrin. Tim multidisiplin yang terdiri dari dokter bedah, ahli kemoterapi, ahli radioterapi, ahli gizi, dan tim rehabilitasi bekerja erat layaknya tim khusus yang selalu siaga merespons setiap kebutuhan pasien secara cepat. Mereka juga membentuk grup komunikasi daring yang aktif 24 jam untuk menjawab pertanyaan dan meredakan kecemasan Maya.

46ed7af0-ff33-498e-8794-12dc13de7cbd.png.png

Maya (60 tahun), Kanker Payudara Invasif Stadium IIA

Setelah keluar dari rumah sakit, Maya rutin menjalani kontrol kesehatan, menjaga pola hidup yang teratur, dan kini tampak bugar hingga membuat orang di sekitarnya kagum: “Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang pernah sakit.”[Baca Kisah Selengkapny]

Teknologi Medis

Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251